PBB: Korut Buka Jalan untuk Lakukan Lebih Banyak Tes Nuklir

Washington: Korea Utara (Korut) telah membuat persiapan untuk tes nuklir selama enam bulan pertama tahun ini, menurut kutipan dari sebuah laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
 
“Aktivitas di lokasi uji coba nuklir Punggye-Ri membuka jalan bagi tes nuklir lainnya untuk pengembangan senjata nuklir,” ujar keterangan pemantau sanksi independen kepada Dewan Keamanan PBB untuk Korut.
 
“DPRK terus mengembangkan kapabilitas mereka untuk memproduksi bahan fisil di area Yongbyon,” tulis pemantau, merujuk pada nama formal Korea Utara, Republik Demokratik Rakyat Korea. Yongbyon adalah fasilitas nuklir utama Korut, yang mengoperasikan reaktor nuklir pertama.





Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Komisi Korut di New York tidak memberikan respons langsung atas laporan PBB tersebut.
 
Amerika Serikat (AS) sejak lama telah memperingatkan bahwa Korut siap untuk melakukan uji coba nuklir ketujuh, dan mengatakan bahwa mereka akan memperkuat sanksi PBB terhadap Pyongyang jika hal tersebut terjadi.
 
Pengamat PBB juga mengatakan bahwa sebuah penyelidikan menunjukkan Pyongyang bersalah atas pencurian ratusan juta aset kripto dalam satu peretasan besar. Pengamat tersebut sebelumnya telah menyalahkan Korut atas peretasan siber untuk membiayai program nuklir dan rudalnya.
 
“Aktivitas dunia maya lainnya yang berfokus pada pencurian informasi dan cara yang lebih tradisional – yang dimaksud memperoleh informasi dan materi berharga untuk program terlarang DPRK, termasuk WMD (senjata pemusnah massal), terus berlanjut,” ujar para pemantau PBB.
 
Korut bertahun-tahun telah dilarang untuk melakukan tes nuklir dan meluncurkan rudal balistik oleh Dewan Keamanan PBB – yang telah memperkuat sanksi kepada Pyongyang selama bertahun-tahun mencoba untuk memotong pendanaan untuk program-program tersebut.
 
“DPRK tengah mempersiapkan area tes nuklir, walau pun hal itu tidak menguji perangkat nuklir. Pada enam tahun awal di 2022, negara tersebut terus melanjutkan akselerasi program rudal (yang dimulai pada tahun 2021),” ujar pemantau PBB.
 
Mereka mengatakan Korut telah meluncurkan 31 rudal yang dikombinasikan dan dampak teknologi, termasuk tes enam balistik rudal interkontinental (ICBM) dan dua rudal yang secara eksplisit dideskripsikan peluru balistik.
 
Korut telah melanjutkan impor ilegal minyak dan ekspor batu bara, menghindari sanksi, ujar pemantau.
 
Perbincangan internasional yang bertujuan untuk meyakinkan Korut menghentikan program nuklir dan rudal balistik sebagian besar telah berhenti pada tahun 2019.
 
Dalam beberapa tahun terakhir, Tiongkok dan Rusia tengah berusaha untuk meringankan sanksi Korea Utara dengan alasan kemanusiaan – dan berharap bahwa Pyongyang dapat diyakinkan untuk kembali bernegosiasi.
 
Pemantau PBB melaporkan bahwa meski pun sulit untuk menilai secara kuat, “ada sedikit keraguan bahwa sanksi pemberian PBB, secara tidak sengaja, telah memengaruhi situasi kemanusiaan” di Korut. (Gracia Anggellica)
 
Baca:  Kim Jong-Un Siap Mobilisasi Sistem Pencegah Perang Nuklir
 

(WIL)

Artikel ini bersumber dari www.medcom.id.

Tinggalkan komentar