Hukum

Kader Gerindra Ditembak Oknum Brimob, Nitizen Pertanyakan Kejiwaannya.

Pembunuhan kader Gerindra bernama Fernando Wowor Oleh oknum Brimob di Bogor dikecam oleh netizen tanah air. Arogansi dan penggunaan senjata secara serampangan, menimbulkan banyak pertanyaan dari warganet apalagi korbannya adalah sipil tanpa senjata .

Salah satunya warganet akun Al-Kara Gypsi, yang dalam statusnya di facebook menyatakan, “penggunaan senjata api oleh polisi hanya digunakan saat keadaan adanya ancaman terhadap jiwa manusia. Sebelum menggunakan senjata api, polisi harus memberikan peringatan yang jelas dengan cara (Pasal 48 huruf b Perkapolri 8/2009).”

Walau pun menurut Kabid Kum Polda Jabar, Kombes Pol Iksantyo Bagus Pramono di Mapolresta Bogor kota, Jalan Kapten Muslihat, Kota Bogor bahwa senjata api yang digunakan Anggota Brimod tersebut merupakan perlengkapan perorangan polri.

Dan dari surat-surat juga sudah kita cek lengkap, namun cara oknum Brimob tersebut yang sering mempamerkan senjatanya di akun sosial media miliknya membuat banyak warganet mempertanyakan soal kejiwaan pelaku yang dianggap labil.

Hal ini terkait dengan penelitian yang dilangsir dari situs Lifehack, Kamis (15/12/2016), sebuah penelitian baru dari University Brunel di London menunjukkan, mereka yang pamer dan narsis di media sosial hidupnya cenderung menderita dan kejiwaannya labil . Biasanya mereka mencari perhatian, yang mengandalkan perhitungan tombol likes dan komentar di Facebook atau media sosial lainnya untuk merasa lebih baik tentang diri mereka sendiri.

Seperti kata dosen Psikologi Dr Tara Marshall, “Meskipun hasil kami menunjukkan bahwa pamer dan narsis terbayar karena mereka menerima lebih like dan komentar untuk update status, bisa jadi teman-teman Facebook diam-diam tidak menyukai tampilan egois dan labil seperti itu.”

Kasus kejiwaan anggota Polri yang memegang senjata, sebelumnya (13/10/2017) dari Anggota Komisi III DPR Abdul Kadir Karding pernah memberikan teguran.

Ia meminta Polri mengevaluasi izin memegang senjata api para personelnya secara berkala. Ia juga meminta persyaratan atas izin memegang senjata api ini diperketat agar dua kasus penembakan oleh anggota Polri tak terulang lagi. “Polri harus mengevaluasi para anggotanya, melalui tes psikologi secara berkala. Evaluasi itu terutama materi assessment bagi anggota Polri yang akan menempati jabatan maupun anggota yang dibekali senjata api,” kata Sekjen PKB ini, Jumat (13/10).

Menurut dia, anggota Polisi bisa sangat sehat fisik dan jiwanya saat baru bergabung di Kepolisian. Namun, kondisi tersebut bisa berubah oleh banyak faktor.

“Karena itu, berbahaya jika Polisi masih menanggung beban dan masalah secara pribadi. Kontrol harus terus berjalan,” jelasnya.

Selain itu, lanjut Karding, Kepolisian perlu membangun sistem deteksi dini untuk memeriksa kondisi fisik dan jiwa masing-masing personal. Hasil evaluasi itu untuk menentukan, apakah seorang anggota layak dibekali senjata atau tidak.

“Jika seorang anggota dalam kondisi labil dan mudah emosi karena persoalan yang dihadapinya, senjata api yang ada padanya harus segera ditarik. Polri perlu menyediakan layanan konseling untuk memulihkan anggota tersebut sampai kondisinya bisa benar-benar stabil,” sarannya.

Hingga saat ini ketika berita ini kami publish, kecaman warganet terus terjadi dengan nada penuh amarah seorang nitizen nikita Anggraini mentwit “Bisa jadi suatu saat kita atau keluarga kita menjadi korban si jiwa labil!”.

Kejadian seperti ini terus menerus terulang, lalu sampai kapan kita bisa hidup merasa tenang?