Nasional

Bandar Udara Mopah, Penyangga Transportasi Udara di Timur Indonesia

AIRPORT MOPAH di Merauke, dibangun pada tahun 1943 khusus untuk keperluan darurat perang. terutama untuk pesawat Royal Australian Air Force.  Setelah perang kemerdekaan, Bandar Udara Mopah yang semula menjadi basis angkatan udara Sekutu mulai ditinggalkan oleh Sekutu dan digantikan oleh pihak sipil pada tahun 1945 yang dikelola oleh organisasi Belanda yaitu NICA (Nederland Cipil Administrator).

Saat ini bandara melayani penerbangan ke Jayapura, Timika, Makassar, Surabaya dan Jakarta. Dengan panjang landasan 2.250 m, dapat didaratkan oleh tipe pesawat seri Boeing 737. Ada sekitar tiga maskapai penerbangan yang melayani layanan terjadwal ke dan dari bandara dan satu melayani penerbangan perintis. “Garuda Indonesia, Sriwijaya Air, Lion Air serta Susi Air yang melayani penerbangan perintis yang terbang kesini,” jelas J. A. Barata, Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenhub.

Dengan tempat-tempat wisata seperti Pantai Lampu Satu yang terkenal dengan matahari terbenam yang indah, Danau Rawa Biru, Taman Nasional Wasur dengan satwa liar yang unik seperti burung papua dan cendrawasih dan tentu saja Tugu Sabang-Merauke, tidak heran jika Merauke menjadi salah satu tujuan wisata di Indonesia bagian timur yang menarik wisatawan untuk berkunjung.

Dengan terus meningkatnya kunjungan wisatawan, aktivitas penerbangan menggunakan bandara juga meningkat. Luas bangunan terminal sebelumnya adalah 1.972 m2 untuk menampung hingga 331 penumpang selama jam sibuk tidak lagi memadai karena telah melebihi kapasitas jenuh terminal. “Menurut standar yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Penerbangan Sipil, dibutuhkan 14m2 / penumpang,” tambah Barata.

Pada 2015, Kemenhub merenovasi dan memperluas dan menata ulang gedung terminal menjadi 4.634 m2. Saat ini, terminal sudah memiliki area check-in yang lebih luas dan dilengkapi dengan ruang pembersihan Armada dan ruang keberangkatan yang nyaman dengan 381 kursi untuk penumpang potensial.

Tidak hanya itu, terminal penumpang juga telah dilengkapi dengan ruang khusus untuk perawatan bayi, toilet tua dan tambahan 2 toilet baru yang merawat sistem AC serta pencahayaan ruangan yang sangat baik. Ini memang perhatian khusus Menteri Transportasi Jonan, pengguna jasa transportasi udara publik harus mendapatkan layanan terbaik.

Di luar gedung terminal, kanopi telah dipasang di lokasi drop off sehingga calon penumpang menghindari panas dan hujan ketika tiba di gedung terminal. Di salah satu sudut terminal, kini dibangun ATM Center juga foodcourt. Untuk menambah keindahan dan kenyamanan bagi calon penumpang, di sekitar terminal telah ditanami pepohonan dan rumput hijau. Rehabilitasi dan perluasan gedung terminal menelan biaya sekitar Rp 16 miliar.

Penyediaan layanan transportasi udara merupakan bagian dari pelaksanaan tugas penyediaan transportasi, baik sebagai “servicing function” maupun “promoting function” tidak dapat dilepaskan dari pertumbuhan ekonomi masyarakat pengguna jasa transportasi udara yang dilayani, dan juga kecenderungan perkembangan yang terjadi. Untuk itu diperlukan sarana dan prasarana transportasi yang handal. Dengan gedung terminal existing ditambah dengan fasilitas yang baik serta pelayanan prima yang diberikan kepada pengguna jasa transportasi diharapkan dapat mendorong dan menunjang pertumbuhan ekonomi masing-masing daerah sehingga ketahanan nasional dapat meningkat.