Pendidikan

IPK Tinggi Tidak Menjamin Lulusan Perguruan Tinggi Siap Kerja

Para pimpinan perguruan tinggi (PT) diminta membuat kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan dunia usaha dan industri. Jangan sampai lulusan PT hanya jadi pengangguran lantaran keahliannya tidak sesuai kebutuhan pasar tenaga kerja.

“Perguruan tinggi harus menyiapkan lulusan yang siap kerja. Sebab, dunia industri melihat kemampuan lulusan PT untuk bekerja masih kurang. Mereka bahkan mengungkap kurang dari 50 persen yang siap kerja dilihat dari sisi kerja sama, negosiasi, dan manajerial,” tutur Direktur Jenderal (Dirjen) Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) Intan Ahmad dalam rapat koordinasi daerah perguruan tinggi swasta kopertis wilayah III, Selasa (26/6).

Direktur Jenderal (Dirjen) Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) Intan Ahmad

Untuk itulah, lanjutnya, kurikulum dibuat sesuai kebutuhan pasar tenaga kerja. Dia mengatakan sebaiknya PT memanggil perwakilan dunia usaha untuk bisa mencocokkan mata kuliah dengan kebutuhan bidang kerja saat ini.

“Jadi bukan indeks prestasi kerja (IPK) penentu utama bisa bekerja. Percuma IPK tinggi tapi kemampuannya tidak sesuai kebutuhan industri,” ucapnya.

Intan Ahmad menambahkan, di era revolusi industri 4.0, hanya sumber daya yang menguasai data bisa bertahan. Siapapun yang menguasai data mampu merengkuh dunia. “Hilangkan dikotomi perguruan tinggi negeri dan swasta. Ingat, bukan hanya PTN yang bisa meluluskan alumni berkompetensi tinggi tapi juga PTS,” tandasnya.