Internasional

Pentingnya Indonesia Miliki Fakultas Haji-Umrah Untuk Mencetak Tenaga Profesional

Pentingnya Indonesia Miliki Fakultas Haji-Umrah Untuk Mencetak Tenaga Profesional

Di balik dinamika penyelenggaraan haji, banyak peluang penting yang mendesak dicermati dunia perguruan tinggi, terutama Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) di Indonesia.

Kebutuhan berbagai layanan haji dan umrah yang kian kompleks, baik dari aspek agama maupun nonagama, seperti manajemen, bisnis, penyediaan SDM kompeten-profesional, sampai tata kelola dana haji harus disambut para pemangku kebijakan di lingkungan PTKI untuk mencetak para profesional.

Saat ini, program studi (prodi) terkait haji dan umrah di lingkungan PTKI berada di dua fakultas yakni Fakultas Dakwah dan Komunikasi atau Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam. Ada pula yang berpandangan bahwa prodi bidang haji-umrah itu relevan di Fakultas Tarbiyah (Pendidikan) atau Syariah (Hukum Islam).

Seiring banyak pengembangan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) menjadi Universitas Islam Negeri (UIN), fakultas-fakultas nonstudi agama seperti ekonomi dan bisnis juga bermunculan. Prodi haji-umrah ada yang di letakkan dalam Fakultas Dakwah karena terkait prodi bimbingan dan konseling Islam atau manajemen dakwah.

tingnya Indonesia Miliki Fakultas Haji-Umrah Untuk Mencetak Para Profesional

Salah satu layanan penting dalam penyelenggaraan haji-umrah adalah bimbingan ibadah, khususnya manasik haji dan umrah dan turunannya. Sementara itu, PTKI yang menempatkan prodi haji-umrah ada di dalam Fakultas Eko nomi-Bisnis karena melihat aspek manajemen dan bisnis dalam penyelenggaraan haji-umrah ini makin menantang dan dinamis.

“Yang dibutuhkan bukan hanya pembimbing ibadah haji profesional, tapi juga tenaga profesional dalam pengelolaan sisi bisnis haji dan umrah sebagai bisnis jasa yang demand dan animo pasarnya terus meningkat,” kata Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Um rah (PHU) Nizar Ali yang juga mantan direktur Pendidikan Tinggi Islam Kemenag dalam perbincangan informal di ruang lobi Kantor Daerah Kerja (Daker) Mekkah, Arab Saudi, Jumat (3/8) malam.

Nizar menyerukan pentingnya pembicaraan akademik yang komprehensif oleh para rektor dan pemangku kebijakan PTKI untuk merespons ini. Aspek haji-umrah, lanjutnya, makin kompleks dan dinamis.

Kini keuangan haji baik yang berasal dari setoran awal calon jamaah maupun sisa Dana Abadi Umat (DAU) jumlahnya makin besar dan dikelola khusus secara profesional oleh Badan Pengelola Keuangan Haji sehingga bisa diinvestasikan agar manfaatnya makin besar bagi jamaah dan publik luas.

Untuk itu, diperlukan pula tenaga terampil bidang keuangan haji. Dari aspek pariwisata, haji dan umrah merupa kan bagian penting dari tren global layanan Islamic tourism atau wisata halal yang kini menjadi salah satu faktor signifikan penggerak perputaran ekonomi baik global maupun domestik.

“Ini berarti, sudah tidak cukup sekadar prodi, sudah harus jadi fakultas,” kata Mastuki, juru bicara Kemenag yang pernah menjabat kasubdit di Direktorat Pendidikan Tinggi Islam ini