BisnisEkonomi

Pasca Brexit, Bisnis Migas Lepas Pantai Inggris Terancam Mati

Pasca Brexit, Bisnis Migas Lepas Pantai Inggris Terancam Mati

Sektor minyak dan gas (migas) Inggris khususnya lepas pantai terancam harus gulung tikar alias bangkrut, apabila kesepakatan Brexit membuat perusahaan sulit untuk mengakses pekerja terampil yang kebanyakan berasal dari Uni Eropa (UE). Kecemasan terkait kesepakatan Inggris keluar dari UE berimbas ke sektor tenaga kerja, diungkapkan laporan industri terbaru.

Dilansir BBC, Selasa (11/9/2018) peringatan ini muncul dalam laporan ekonomi terbaru di sektor minyak dan gas Inggris. Diungkapkan penundaan dalam mengakses pasar tenaga kerja dari negara-negara Uni Eropa, berpotensi dalam beberapa kasus menyebabkan produksi migas akan terhenti. Sementara itu, pemerintahan Inggris mengklaim pengusaha dapat melakukan perekrutan dari Eropa hingga 2020.

Di sisi lain, dalam laporan dinyatakan bahwa sekitar 5% pekerja di sektor minyak dan gas Inggris berasal dari negara-negara UE serta lainnya. Angka tersebut naik menjadi 7% untuk tenaga kerja kilang migas lepas pantai. “Sangat penting bahwa aturan baru bisa diberlakukan antara Inggris dan Uni Eropa sehingga memungkinkan pergerakan masyarakat tanpa gesekan,” bunyi laporan tersebut.

Salah satu contoh yang terkait dengan kapal tanggap darurat ditempatkan dekat dengan platform, yang membutuhkan insinyur terampil untuk beroperasi. Diterangkan juga apabila timbul kesulitan dalam merekrut tenaga kerja, maka perusahaan harus menutup operasi dan produksi. Maka guna meminimalisir dampak Brexit, sektor migas Inggris menerangkan, sangat penting pemerintah Inggris menjamin akses ke pasar dan tenaga kerja.

Pasca Brexit, Bisnis Migas Lepas Pantai Inggris Terancam Mati
Pasca Brexit, Bisnis Migas Lepas Pantai Inggris Terancam Mati

Hal itu untuk mempertahankan suara yang kuat di Eropa untuk industri, dan melindungi pasar energi internal. Sementara, Laporan Ekonomi 2018 mengungkapkan bahwa harga minyak pada paruh pertama tahun ini 30% lebih tinggi dari 2017, rata-rata lebih dari USD70 per barel. Hal ini seiring dengan dorongan yang terus berlanjut untuk menurunkan biaya, yang diperkirakan sudah menciptakan lebih dari 10 miliar poundsterling.

Namun investor menerangkan, “akan terus mendukung pandangan konservatif” karena volatilitas harga minyak yang terus berlanjut. “Industri dalam kondisi gawat dengan kemerosotan paling tajam sepanjang sejarah. Tetapi, langkah-langkah yang telah diambil oleh industri, pemerintah dan regulator telah memberikan hasil nyata,” ujar Kepala Eksekutif Deirdre Michie

“Meskipun perbaikan terlihat dalam beberapa tahun terakhir, kami tetap berada di persimpangan jalan. Aktivitas pengeboran rendah, ditambah dengan tekanan rantai pasokan, mengancam kemampuan industri untuk secara efektif melayani peningkatan aktivitas dan memaksimalkan pemulihan ekonomi,” paparnya.

Lebih lanjut Ia menegaskan, akan terus mendorong peningkatan aktivitas sambil terus mencari dan menerapkan cara kerja yang lebih efisien yang mendukung kesehatan perusahaan rantai pasokan dan di sisi lain menjaga biaya tetap terkendali. Laporan itu mengatakan biaya produksi minyak sudah berkurang separuh sejak puncaknya dan sekarang rata-rata sekitar USD15 per barel.

Sementara itu seorang juru bicara Departemen Bisnis, Energi, dan Strategi Industri mengatakan: “Industri minyak dan gas sangat penting bagi ekonomi dan keamanan energi Inggris. Itulah sebabnya kami menyediakan paket dukungan senilai 2,3 miliar poundsterling.

“Warga Uni Eropa memberikan kontribusi besar pada industri minyak dan gas dan kami memberikan kepastian kepada industri bahwa para pengusaha akan bebas untuk terus merekrut dari Eropa hingga 2020.”