Gaya HidupWisata

Nikmatnya Ngopi Ki Demang Di Tengah Kebun Kopi Sukamakmur, Bogor

Nikmatnya Ngopi Ki Demang Di Tengah Kebun Kopi Sukamakmur, Bogor

Kini menikmati kopi menjadi tren perkotaan. Tidak sedikit yang datang ke gerai penyeduh kopi. Tetapi suasana berbeda amat terasa bila pemburu kopi datang ke Kampung Gunung Batu, Desa Sukaharja, Kecamatan Sukamakmur. Di sini adalah tempat berkumpulnya para pencinta kopi Bogor.

Layaknya dalam film filosofi kopi, jauh dari keramaian lokasi ini berada di tengah kebun kopi di atas gunung. Sekelilingnya hanya ada hamparan kebun kopi dan pepohonan hijau.

Sebagai etalase penghasil kopi di Bogor, para petani kopi di kampung ini berinisiatif mendirikan gerai sendiri. Gerai tersebut dinamai Ki Demang.

Untuk menuju lokasi ini, para pemburu kopi harus menempuh jarak sekitar 20-30 kilometer dari Cileungsi. Akses bisa melalui Jonggol, atau bisa jalan Citeureup. Dan pada pemburu kopi harus menggunakan kendaraan pribadi, karena tidak ada kendaraan umum menuju lokasi ini.

Satu dekade lalu jalan menuju lokasi masih berupa bebatuan. Jika musim hujan tiba kendaraan terpaksa harus sering berhenti untuk menghindari genangan dan lubang. Tetapi sekarang jalan menuju ke Wisata Gunung batu mulus.

“Awalnya 2012 saya datang ke sini. Menurut saya Bogor itu banyak kopinya tetapi tidak terdengar,” ujar Andika Aditisna, petani kopi sekaligus pendiri kafe, Minggu 9 September 2018.

Nikmatnya Ngopi Ki Demang Di Tengah Kebun Kopi Sukamakmur, Bogor
Nikmatnya Ngopi Ki Demang Di Tengah Kebun Kopi Sukamakmur, Bogor

Andika menceritakan, awalnya lokasi tersebut  adalah wisata pendakian Gunung Batu yang dibuka pada 2014. Bertepatan itu, lokasi ini  juga menjadi arena berkumpul para petani kopi di Sukamakmur untuk melepas lelah usai berkebun, bentuknya berupa saung biasa.

Para petani hanya menjual green bean kopi dan gelondongan. Tetapi satu tahun belakangan, niat itu terus menguat hingga memiliki keinginan bersama mengubah dari saung berkumpul menjadi kedai.

Arsitektur kedai yang terbuat dari bambu dengan kursi-kursi kayu di tambah lagi suasana pegunungan dengan udara yang sejuk membuat pengunjung betah berlama-lama.  “Kalau disebut kafe terlalu berlebihan. Ini mah petani jual kopi,” kata pria kelahiran Jakarta, 14 Juli 1979 itu.

Kafe Ki Demang menyuguhkan satu karakter kopi dengan berbagai cara penyeduhan. Selain itu, menjadi wadah memamerkan kopi khas Bogor. Setiap harinya Andika selalu meluangkan waktu untuk berbagi edukasi tentang Kopi.

Menurut Andika, wisatawan yang datang kemari pun tidak hanya domestik melainkan juga mancanegara. Mereka rata-rata mendapat informasi dari kafe-kafe yang ada di Jakarta tentang lokasi perkebunan kopi di Sukamakmur. “Kami bercita-cita memiliki kopi berkualitas dengan jumlah yang dihasilkan baik. Tapi hasil kami belum memasok banyak,” katanya.

Lulusan Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran ini, menyebut, awal kedatangannya, para petani terjebak penjualan ‘ijon’- tengkulak (dibayar dulu sebelum waktu panen). Kendala ini menurutnya, tidak mungkin menghasilkan kopi berkualitas jika petani dikejar utang.

“Dan terpenting membebani kepercayaan diri petani bahwa dari hasil kopi petani bisa hidup. Petani itu jiwa, bukan profesi siapapun orangnya,” ucapnya.

Para tengkulak kini mulai tidak dilirik petani. Di sini Andika berhasil mendirikan Paguyuban Petani Kopi Bogor. Petani kini beranjak memulai pengolahan pendapatannya melalui Koperasi Kopi Bogor yang melibatkan Dinas Pertanian Kabupaten Bogor.