Kesehatan

Waspada, Ternyata Sering Tahan Pipis Bisa Picu Batu Ginjal

Buang air kecil adalah salah satu mekanisme tubuh untuk mengeluarkan toksin atau kotoran yang berbahaya untuk kesehatan. Tetapi kadang, ada hal yang menyebabkan orang harus menahan pipis. Kebanyakan orang mungkin berpikir bahwa menahan pipis bukanlah hal yang serius. Tetapi di balik menahan kencing, ada bahaya mengancam.

“Efek paling berbahaya dari menahan pipis adalah batu ginjal. Karena saat menahan pipis, berisiko alami infeksi saluran kemih,” ujar Spesialis Urologi, dr Hani Hendarto dalam program Ayo Hidup Sehat di tvOne, Senin 19 November 2018.

Menurut dokter Hani, infeksi yang terjadi berulang kali pada saluran kemih itu, bila dibiarkan dalam jangka panjang akan memicu batu ginjal. Ada pun saat menahan buang air kecil, bakteri di dalamnya bisa berkumpul dan memicu infeksi tersebut. “Saat kandung kemih penuh, bakteri di dalamnya bisa berkumpul. Apalagi kalau dibiarkan ditahan sampai 4 jam dan membuat kandung kemih menampung hingga 400cc cairan,” ungkapnya.

Saat infeksi biasanya saluran kemih timbul, akan muncul beberapa gejala seperti sakit saat berkemih hingga hematuria atau darah di dalam air seni. Maka dari itu, sebaiknya saat muncul keinginan untuk buang air kecil, segera mencari toilet terdekat. “Kalau isi kandung kemih masih 150cc, masih bisa tahan hingga 1 jam. Tapi kalau sudah ditahan 3-4 jam, kandung kemih sudah penuh dan harus segera dikeluarkan cairannya.”
Waspada, Ternyata Sering Tahan Pipis Bisa Picu Batu Ginjal
Waspada, Ternyata Sering Tahan Pipis Bisa Picu Batu Ginjal

Sementara itu menurut Hery Tiera, dokter spesialis urologi, “menahan kencing tidak bikin batu ginjal, malah menimbulkan urinary tract infection,” katanya.

Hery mengatakan, urin yang dihasilkan dari ginjal bersifat steril. Ini menandakan, dalam kondisi normal, tidak ada bakteri maupun kuman yang bersarang di sana. “Ketika kencing ditunda, kuman lebih mudah masuk ke saluran kemih lewat uretra. Uretra adalah saluran yang menghubungkan saluran kemih dengan dunia luar,” ujar Hery.

Pasalnya, pengeluaran urin sendiri merupakan bentuk pertahanan yang dilakukan tubuh manusia. Kelebihan zat hasil metabolisme tubuh akan dibuang bersamaan dengan keluarnya air kencing.

Saat proses kencing, urin turut membuang zat-zat yang tidak diperlukan tubuh. Lalu, urin yang dikeluarkan turut membersihkan kuman-kuman sepanjang saluran kemih. Kemudian, jika kencing ditahan, bakteri akan lebih mudah menjalar masuk ke saluran kemih karena tidak ada proses pembersihan melalui pengeluaran urin.

Kuman masuk melalui saluran uretra lalu menuju saluran kemih hingga memperbanyak diri dalam kandung kemih.  Kuman yang tertinggal di saluran kemih inilah yang memicu infeksi. “Wanita lebih rentan terkena saluran infeksi kencing karena tidak punya penis. Kalau lelaki, makin panjang penisnya, makin susah kuman masuk” imbuh dokter alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Sebagai informasi, uretra yang dimiliki pria berada di batang penis. Umumnya, memiliki panjang 10-15 sentimeter yang menyulitkan kuman dari dunia luar menerobos masuk. Sementara itu, uretra pada perempuan hanya sekitar 3,8 sentimeter. Karena jarak uretra dengan pembukaan urinoir, anus, dan vagina yang terlalu pendek membuat kuman dari luar lebih mudah menyusup.