NasionalPolitik

Miris, Proses Rekrutmen Petugas KPPS Pemilu 2019 Ternyata Asal-Asalan

Miris, Proses Rekrutmen Petugas KPPS Pemilu 2019 Ternyata Asal-Asalan (harianpress.com)Miris, Proses Rekrutmen Petugas KPPS Pemilu 2019 Ternyata Asal-Asalan

Pada Pemilu 2019 kali ini merupakan pesta demokrasi yang paling banyak memakan korban jiwa yaitu meninggalnya petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS). Banyaknya petugas KPPS yang meninggal sekitar 500-an lebih dalam Pemilu 2019 harus segera dievaluasi.

Setidaknya dengan evaluasi disertai investigasi menyeluruh, Indonesia akan memiliki data-data dan pencarian solusi untuk Pemilu-Pemilu mendatang. Hal tersebut disampaikan psikolog Universitas Indonesia, Tika Bisono di Jakarta.

“Setuju harus dilakukan evaluasi. Juga perlu dilakukan investigasi atas peristiwa-peristiwa meninggalnya para petugas KPPS itu. Sebab, saya sendiri menyaksikan, paling tidak ada tiga hal utama yang tidak dijalankan. Yaitu, proses rekrutmen petugas KPPS yang tidak baik, operasional dan kerja-kerja mereka yang tidak menerapkan standar yang jelas dan logistik yang tidak memadai,” ujar Tika Bisono.

Tika mengaku miris dengan proses rekrutmen petugas KPPS yang asal-asalan. Seharusnya, setiap calon petugas KPPS itu terlebih dahulu dilakukan screening test kesehatan. Karena, kerja petugas KPPS tidak sama dengan pemilu terdahulu.

Psikolog Universitas Indonesia, Tika Bisono (harianpress.com)
Psikolog Universitas Indonesia, Tika Bisono

“Yang sekarang kan ada berlembar-lembar kertas suara yang harus mereka urusi, dengan jumlah pemilih per TPS yang ratusan orang. Itu sangat menguras energi dan bisa menyebabkan kelelahan. Apalagi, jika petugas KPPS itu ternyata ada yang sudah mengalami sakit sebelumnya, namun dipaksakan, ya fatal jadinya,” ungkap Tika.

Tika menilai, jika melewati test dalam tahapan perekrutan, akan dapat diminimalisir petugas yang memiliki penyakit bawaan atau kondisi fisik kurang fit. Termasuk dalam proses kerja-kerjanya, para petugas KPPS jangan memaksakan diri.”Kalau sudah letih ya jangan dipaksakan. Beristirahatlah. Jangan diteruskan, jangan sampai rontok. Penyakit bawaan yang ada bisa jadi makin parah dan bisa mengancam nyawa,” tuturnya.

Tika juga setuju agar dilakukan wawancara satu per satu dengan keluarga korban, untuk mengetahui latar belakang dan riwayat kesehatan masing-masing petugas. “Tetapi investigasi dan wawancara kepada keluarga saja, tak perlulah harus dibuka lagi jenazah dari kuburan. Kalau mau tanya ya tanya siji-siji, tanya keluarganya,” katanya.

Lebih lanjut, Tika menuturkan, dalam proses kerja selama bertugas, seharusnya pihak-pihak yang berwenang termasuk keluarga masing-masing petugas KPPS ikut mengawasi.

“Ya bisa ditanyakan apakah sudah makan, apakah cukup minum, apakah ada snack, apakah cukup istirahat, apakah ada tenaga medis di sekitar tempat mereka bertugas dan seterusnya. Itu semuanya tidak dipersiapkan dan tidak ada,” tandasnya.

Bahkan, menurut Tika, perlu adanya tenaga medis di setiap lokasi Tempat Pemungutan Suara (TPS).

“Sedangkan anak sekolah saja hendak mau camping kegiatan Pramuka, misalnya, orang tua atau keluarganya betul-betul mempersiapkan kebutuhan dan hal-hal teknis dan segala persiapan yang diperlukan. Masa untuk Pemilu begini tidak ada perhatian dan persiapan yang memadai?” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan