NasionalPolitik

Jika Pemilu Jurdil, Mengapa Semua Peserta Gugat Sengketa Ke MK?

Jika Pemilu Jurdil, Mengapa Semua Peserta Gugat Sengketa Ke MK? (harianpress.com)Jika Pemilu Jurdil, Mengapa Semua Peserta Gugat Sengketa Ke MK?

Said Salahudin, seorang Pemerhati Politik, Pemilu, dan Kenegaraan mengatakan bahwa selama ini banyak pihak menepis adanya dugaan kecurangan Pemilu 2019. Said menambahkan, setiap kali isu kecurangan disuarakan, maka pihak yang menyuarakan isu tersebut akan dituding tengah berusaha mendelegitimasi Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Namun faktanya, ujar Said, kini semua Peserta Pemilu justru mendalilkan Pemilu 2019 berlangsung secara tidak jujur dan tidak adil alias curang. Hal tersebut bisa dilihat dari daftar Permohonan Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU) yang diajukan oleh semua Peserta Pemilu ke Mahkamah Konstitusi (MK).

Said menilai, fakta tersebut menunjukkan bahwa dugaan kecurangan Pemilu bukan sekedar isapan jempol belaka.

“Sebab, kalau Pemilu dianggap sudah berlangsung secara jujur dan adil, mengapa partai-partai politik dan calon Anggota DPD merasa perlu mengajukan sengketa ke MK?” ujar Said dalam keterangan tertulisnya, Senin (27/5/2019).

Said Salahudin, Pemerhati Politik, Pemilu, dan Kenegaraan (harianpress.com)
Said Salahudin, Pemerhati Politik, Pemilu, dan Kenegaraan

Said pun mempersilakan untuk melihat daftar gugatan hasil Pemilu yang masuk ke MK. “Itu kan ternyata tidak hanya diajukan oleh capres-cawapres nomor 02 dan partai-partai politik pendukungnya. Permohonan sengketa juga diajukan oleh para calon anggota DPD, bahkan oleh parpol-parpol pendukung capres-cawapres 01,” tuturnya.

Said menambahkan, PDIP, Golkar, Nasdem, PKB, PPP, Hanura, dan parpol-parpol pendukung pasangan Jokowi – Ma’ruf yang lain juga ternyata ikut menggugat.

“Atas dasar apa gugatan itu diajukan? sudah barang tentu atas dasar adanya dugaan pelanggaran terhadap asas-asas Pemilu,” kata Konsultan Senior Political and constitutional law consulting (Postulat) ini.

Dewan Pakar Pusat Konsultasi Hukum Pemilihan Umum (Puskum Pemilu) ini menuturkan, asas langsung, umum, bebas, rahasia, dan yang lebih utama lagi asas jujur dan adil yang dinyatakan dalam Pasal 22E ayat (1) UUD 1945 itulah yang nantinya akan dijadikan sebagai parameter oleh Mahkamah dalam memeriksa, mengadili, dan memutus perkara PHPU.

“Jadi, kalau semua Peserta kini menyoal hasil Pemilu, itu artinya indikasi adanya kecurangan dalam penyelenggaraan Pemilu 2019 semakin menguat. Oleh sebab itu, menurut saya tidak perlu lagi dimunculkan tudingan bahwa pihak yang menyoal dugaan kecurangan Pemilu dianggap ingin mendelegitimasi KPU,” ucap Direktur Sinergi masyarakat untuk demokrasi Indonesia (Sigma) ini .

Jika Pemilu Jurdil, Mengapa Semua Peserta Gugat Sengketa Ke MK? (harianpress.com)
Jika Pemilu Jurdil, Mengapa Semua Peserta Gugat Sengketa Ke MK?

Dilanjutkan Said, karena jika menduga KPU termasuk juga Bawaslu telah berlaku tidak jujur dan tidak adil alias curang di dalam menyelenggarakan Pemilu serta-merta dianggap sebagai upaya mendelegitimasi lembaga Penyelenggara Pemilu, maka semua partai politik juga dapat disebut sebagai pelakunya.

“Yang jelas, soal benar atau tidaknya Pemilu 2019 diwarnai oleh praktik kecurangan, kita masih harus menunggu pembuktiannya dari hasil persidangan yang akan digelar oleh Mahkamah Konstitusi,” pungkas Said.